Direktur Indosterling menargetkan dana kelolaan Rp 200 miliar di akhir tahun

IndoSterling Aset Manajemen memasang target sanggup menghimpun sejumlah dana kelolaan atau asset under management (AUM) sekitar Rp duaratus miliar hingga akhir tahun ini.

Direktur IndoSterling AM Fitzgerald Stevan Purba menyampaikan, target dana kelolaan tersebut lebih bersifat motivasi dan bukan sesuatu yang harus dicapai. Ini mengingat IndoSterling AM masih tergolong baru sebagai sebuah perusahaan manajer investasi. “Kami masih berfokus pada pembenahan interna dahulu,” katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (29/8).

Indosterling

Indosterling

Untuk saat ini, ia bilang total dana kelolaan IndoSterling AM kurang lebih sebesar Rp 30 milyar. Jumlah ini diperoleh dari reksadana pasar uang dan reksadana saham.

Karena jarak dengan target dana kelolaan masih cukup besar, Stevan mengaku pihaknya nggak muluk-muluk menjangkau target tersebut. Namun, sejumlah usaha tetap dilakukan manajer investasi ini untuk menambah dana kelolaan. Misalnya dengan menawarkan produk baru semisal reksadana terproteksi dan reksadana penyertaan terbatas (RDPT).

Kedua jenis produk reksadana ini dinilai lebih gampang dalam menjaring dana kelolaan dalam jumlah banyak. Ini dengan catatan manajer investasi dapat menggaet pemodal potensial secara tepat.

Stevan menyebut, pihaknya masih menjajaki peluncuran kedua reksadana tersebut. Lebih khusus untuk reksadana terproteksi, situasi pasar obligasi terkini akan sangat mempengaruhi setiap manajer investasi dalam merilis instrumen tersebut.

Apalagi, suku bunga acuan sudah turun dua kali pada tahun ini sehingga berpotensi menyebabkan yield obligasi ikut bergerak turun. “Ketika suku bunga acuan turun, investor justru masih menginginkan yield tinggi. Ini membuat kami perlu waspada sebelum menerbitkan reksadana terproteksi baru,” ungkap nya.

 

Baca Juga :

Indosterling Asset  akan Mengelola Dana Sebesar Rp 200 Milyar

 

 

 

Tags: , , ,

Indosterling memasang target dana kelolaan Rp duaratus miliar di akhir tahun

IndoSterling Aset Manajemen menargetkan sanggup menghimpun total dana kelolaan atau asset under management (AUM) sekitar Rp 200 miliar hingga akhir tahun ini.

Pimpinan IndoSterling Asset Manajemen Fitzgerald Stevan Purba menyampaikan, target dana kelolaan tersebut lebih bersifat motivasi dan bukan sesuatu yang wajib dicapai. Ini mengingat IndoSterling AM masih tergolong baru sebagai sebuah perusahaan manajer investasi. “Perusahaan masih fokus pembenahan kedalam terlebih dahulu,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (29/8).

Indosterling

Indosterling

Untuk saat ini, ia bilang total dana kelolaan IndoSterling AM kurang lebih sekitar Rp 30 milyar. Jumlah ini berasal dari reksadana pasar uang dan reksadana saham.

Karena jarak dengan target dana kelolaan masih cukup besar, Stevan mengaku Indosterling tidak muluk-muluk menggapai target tersebut. Namun, sejumlah upaya tetap dilakukan manajer investasi ini buat menambah dana kelolaan. Contohnya dengan meluncurkan produk baru seperti reksadana terproteksi serta reksadana penyertaan terbatas (RDPT).

Kedua jenis produk reksadana ini dinilai lebih mudah dalam menjaring dana kelolaan dalam jumlah banyak. Ini dengan catatan manajer investasi dapat menggaet pemodal potensial dengan tepat.

Stevan mengatakan, pihaknya masih menjajaki penawaran kedua reksadana tersebut. Lebih khusus buat reksadana terproteksi, kondisi pasar obligasi terkini akan sangat mempengaruhi setiap manajer investasi dalam merilis instrumen tersebut.

Apalagi, suku bunga acuan sudah turun dua kali di tahun ini sehingga berpotensi membuat yield obligasi ikut bergerak turun. “Ketika suku bunga acuan turun, investor justru masih menginginkan yield tinggi. Ini membuat kami perlu berhati-hati sebelum menawarkan reksadana terproteksi baru,” ungkap dia.

 

Baca Juga :

Indosterling Asset  akan Mengelola Dana Sebesar Rp 200 Milyar

 

 

 

Tags: , , ,

Indosterling menargetkan dana kelolaan Rp 200 milyar di akhir 2019

IndoSterling Aset Manajemen mematok sanggup menghimpun total dana kelolaan atau asset under management (AUM) sekitar Rp duaratus miliar hingga akhir tahun ini.

Pimpinan IndoSterling AM Fitzgerald Stevan Purba menyebut, target dana kelolaan tersebut lebih bersifat harapan dan bukan sesuatu yang harus dicapai. Ini mengingat IndoSterling AM masih tergolong pemain baru sebagai sebuah perusahaan manajer investasi. “Perusahaan masih fokus pembenahan kedalam terlebih dahulu,” katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (29/8).

Indosterling

Indosterling

Untuk saat ini, dia bilang nilai dana kelolaan IndoSterling AM kurang lebih sekitar Rp tigapuluh milyar. Nilai ini diperoleh dari reksadana pasar uang dan reksadana saham.

Disebabkan jarak dengan target dana kelolaan masih cukup besar, Stevan mengaku pihaknya tak muluk-muluk menggapai target tersebut. Namun, sejumlah upaya tetap dilakukan manajer investasi ini untuk menambah dana kelolaan. Misalnya dengan menawarkan produk baru semisal reksadana terproteksi dan reksadana penyertaan terbatas (RDPT).

Kedua jenis produk reksadana ini dianggap lebih mudah dalam mendapatkan dana kelolaan dalam jumlah banyak. Ini dengan catatan manajer investasi dapat menggaet investor potensial dengan tepat.

Stevan mengatakan, pihaknya masih menjajaki peluncuran kedua reksadana tersebut. Lebih khusus untuk reksadana terproteksi, kondisi pasar obligasi terkini akan sangat mempengaruhi tiap manajer investasi dalam merilis instrumen tersebut.

Apalagi, suku bunga acuan sudah turun 2 kali di tahun ini sehingga berpotensi menyebabkan yield obligasi ikut bergerak turun. “Ketika suku bunga acuan turun, investor justru masih menginginkan yield tinggi. Ini membuat kami perlu waspada sebelum meluncurkan reksadana terproteksi baru,” ungkap nya.

 

Baca Juga :

Indosterling Asset  akan Mengelola Dana Sebesar Rp 200 Milyar

 

 

 

Tags: , , ,

Indosterling Terbitkan Tiga Produk Investasi Plus Beramal

PT IndoSterling Aset Manajemen (IAM) meluncurkan Philanthropy Management, yang merupakan penggabungan produk investasi, dengan kesempatan untuk mendonasikan dana untuk misi sosial atau tujuan kemanusiaan.

Dalam kegiatan ini, IAM bekerjasama tiga yayasan/organisasi atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yakni Vertical Rescue Indonesia (VRI), Yayasan Pita Kuning, dan Rumah Faye.

Abraham Bastari, Komisaris Utama Indosterling Aset Manajemen, mengatakan, dalam program ini, pihaknya berusaha memperkenalkan IAM yang baru berdiri kurang lebih 6 bulan untuk berkontribusi ke ekosistem yang lebih luas dengan melakukan investasi sekaligus beramal.

“Umur kami baru sekitar 6 bulan, pelan-pelan menggalang sejumlah dana yang bisa dikelola. Diharapkan dikembangkan dan disalurkan ke impact sosial,” kata Abraham‎ waktu peluncuran Philanthropy Management di Samisara Grand Ballroom Sopo Del Tower, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

IAM adalah perusahaan pengelola investasi pertama di Indonesia yang meluncurkan Philanthropy Management dengan nama Investasi Sambil Beramal.

Terdapat 3 pilihan paket investasi yang dapat dipilih para investor.

Pertama, investasi Berbagi Luhur, sekitar limapuluh persen dari management fee investasi disumbangkan sebagai donasi untuk yayasan benefisiari yang dipilih.

Kedua, Investasi Berbagi Tulus, di mana return investasi disumbangkan ke yayasan benefisiari yang dipilih.

Serta ketiga, Investasi Berbagi Mulia, di mana dana donasi seutuhnya diinvestasikan atas nama yayasan benefisiari yang dipilih.

William Henley, Founder IndoSterling Group dan Komisaris IndoS‎terling Aset Manajemen, menyatakan, investasi sambil beramal lahir dari filosofi kami, yaitu Creating Value Beyond.

“Komitmen kami adalah menghadirkan value lebih bagi asset yang kami kelola. Baik nilai lebih buat kesejahteraan dan masa depan, juga nilai lebih untuk berkontribusi bagi tujuan sosial, kemanusiaan, dan dunia yang lebih baik,” lanjut William.

BACA JUGA :Indosterling Aset Manajemen Tawarkan 3 Paket Investasi Plus Beramal

 

 

Tags: , ,

Indosterling Aset Manajemen Luncurkan 3 Paket Investasi Sekaligus Beramal

PT IndoSterling Aset Manajemen (IAM) menawarkan Philanthropy Management, yang merupakan penggabungan paket investasi, dengan kesempatan buat mendonasikan dana untuk misi sosial dan tujuan kemanusiaan.

Dalam kegiatan ini, IAM bekerjasama tiga yayasan/organisasi atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yakni Vertical Rescue Indonesia (VRI), Yayasan Pita Kuning, dan Rumah Faye.

Abraham Bastari, Komisaris Utama Indosterling Aset Manajemen, mengatakan, dalam program ini, pihaknya berusaha memperkenalkan IAM yang baru berdiri kurang lebih enam bulan buat berkontribusi ke ekosistem yang lebih luas dengan melakukan investasi sekaligus beramal.

“Usia kami baru sekitar 6 bulan, pelan-pelan mengumpulkan sejumlah dana yang dapat dikelola. Diharapkan dikembangkan dan disalurkan ke dampak sosial,” kata Abraham‎ pada saat peluncuran Philanthropy Management di Samisara Grand Ballroom Sopo Del Tower, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

IAM adalah perusahaan manajemen investasi pertama di Indonesia yang meluncurkan Philanthropy Management dengan nama Investasi Sambil Beramal.

Terdapat tiga jenis produk investasi yang dapat dipilih para investor.

Pertama, investasi Berbagi Luhur, sejumlah limapuluh persen dari management fee investasi disumbangkan sebagai donasi buat yayasan benefisiari yang dipilih.

Kedua, Investasi Berbagi Tulus, di mana return investasi didonasikan ke yayasan benefisiari yang dipilih.

Serta ketiga, Investasi Berbagi Mulia, di mana dana donasi seutuhnya diinvestasikan atas nama yayasan benefisiari yang dipilih.

William Henley, Founder IndoSterling Group dan Komisaris IndoS‎terling Aset Manajemen, mengatakan, investasi sambil beramal lahir dari prinsip kami, yakni Creating Value Beyond.

“Komitmen kami yaitu menghadirkan value lebih bagi asset yang kami kelola. Baik nilai lebih untuk kesejahteraan serta masa depan, juga nilai lebih buat berkontribusi bagi tujuan sosial, kemanusiaan, dan dunia yang lebih baik,” lanjut William.

BACA JUGA :Indosterling Aset Manajemen Tawarkan 3 Paket Investasi Plus Beramal

 

 

Tags: , ,

Indosterling targetkan dana kelolaan Rp duaratus miliar di akhir 2019

IndoSterling Aset Manajemen mematok mampu menghimpun sejumlah dana kelolaan atau asset under management (AUM) sekitar Rp 200 milyar hingga akhir 2019 ini.

Direktur IndoSterling AM Fitzgerald Stevan Purba menyampaikan, target dana kelolaan tersebut lebih bersifat harapan dan bukan sesuatu yang wajib dicapai. Ini mengingat IndoSterling AM masih tergolong baru sebagai sebuah perusahaan manajer investasi. “Perusahaan masih fokus pada pembenahan interna terlebih dahulu,” ujarnya kepada media, Kamis (29/8).

Indosterling

Indosterling

Pada saat ini, ia bilang nilai dana kelolaan IndoSterling AM kurang lebih sekitar Rp tigapuluh miliar. Nilai ini diperoleh dari reksadana pasar uang dan reksadana saham.

Disebabkan jarak dengan target dana kelolaan masih cukup besar, Stevan mengatakan pihaknya tak muluk-muluk menggapai target tersebut. Namun, sejumlah usaha tetap dilakukan manajer investasi ini buat menambah dana kelolaan. Misalnya dengan menawarkan produk baru seperti reksadana terproteksi serta reksadana penyertaan terbatas (RDPT).

Kedua jenis produk reksadana ini dianggap lebih gampang dalam menjaring dana kelolaan dalam jumlah banyak. Ini dengan catatan manajer investasi dapat menggaet pemodal potensial dengan tepat.

Stevan menyampaikan, pihaknya masih menjajaki penerbitan kedua reksadana tersebut. Lebih khusus buat reksadana terproteksi, situasi pasar obligasi terkini akan sangat mempengaruhi setiap manajer investasi dalam merilis instrumen tersebut.

Apalagi, suku bunga acuan sudah turun dua kali pada tahun ini sehingga berpotensi membuat yield obligasi ikut bergerak turun. “Ketika suku bunga acuan turun, investor justru masih menginginkan yield tinggi. Ini membuat kami perlu waspada sebelum meluncurkan reksadana terproteksi baru,” ungkap dia.

 

Baca Juga :

Indosterling Asset  akan Mengelola Dana Sebesar Rp 200 Milyar

 

 

 

Tags: , , ,

Indosterling menargetkan dana kelolaan Rp 200 miliar di akhir 2019

IndoSterling Aset Manajemen menargetkan sanggup menghimpun total dana kelolaan atau asset under management (AUM) sekitar Rp 200 milyar hingga akhir tahun ini.

Pimpinan IndoSterling AM Fitzgerald Stevan Purba menyebut, target dana kelolaan tersebut lebih bersifat harapan dan bukan sesuatu yang harus dicapai. Ini mengingat IndoSterling AM masih tergolong baru sebagai sebuah perusahaan manajer investasi. “Perusahaan masih fokus pada pembenahan kedalam dahulu,” katanya kepada media, Kamis (29/8).

Indosterling

Indosterling

Pada saat ini, dia bilang total dana kelolaan IndoSterling AM kurang lebih sebesar Rp 30 miliar. Jumlah ini diperoleh dari reksadana pasar uang dan reksadana saham.

Karena jarak dengan target dana kelolaan masih cukup besar, Stevan mengaku pihaknya tidak muluk-muluk menggapai target tersebut. Akan tetapi, sejumlah upaya tetap dilakukan manajer investasi ini buat menambah dana kelolaan. Contohnya dengan menawarkan produk baru semisal reksadana terproteksi serta reksadana penyertaan terbatas (RDPT).

Kedua jenis produk reksadana ini dinilai lebih gampang dalam menjaring dana kelolaan dalam jumlah banyak. Ini dengan catatan manajer investasi dapat menggaet investor potensial secara tepat.

Stevan mengatakan, pihaknya masih menjajaki peluncuran kedua reksadana tersebut. Lebih khusus untuk reksadana terproteksi, kondisi pasar obligasi terkini akan sangat mempengaruhi setiap manajer investasi dalam merilis instrumen tersebut.

Apalagi, suku bunga acuan sudah turun dua kali pada tahun ini sehingga berpotensi membuat yield obligasi ikut bergerak turun. “Ketika suku bunga acuan turun, investor justru masih menginginkan yield tinggi. Ini membuat kami perlu berhati-hati sebelum meluncurkan reksadana terproteksi baru,” ungkap dia.

 

Baca Juga :

Indosterling Asset  akan Mengelola Dana Sebesar Rp 200 Milyar

 

 

 

Tags: , , ,

Indosterling Menawarkan 3 Produk Investasi Sekaligus Beramal

PT IndoSterling Aset Manajemen (IAM) meluncurkan Philanthropy Management, yang merupakan penggabungan produk investasi, dengan peluang untuk mendonasikan dana untuk misi sosial dan tujuan kemanusiaan.

Dalam kegiatan ini, IAM bekerjasama tiga yayasan/organisasi atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yakni Vertical Rescue Indonesia (VRI), Yayasan Pita Kuning, dan Rumah Faye.

Abraham Bastari, Komisaris Utama Indosterling Aset Manajemen, menyebutkan, dalam program ini, pihaknya berusaha memperkenalkan IAM yang baru berdiri kurang lebih enam bulan untuk berkontribusi ke ekosistem yang lebih luas dengan melakukan investasi sekaligus beramal.

“Usia kami baru sekitar 6 bulan, perlahan menggalang sejumlah dana yang dapat dikelola. Diharapkan dikembangkan serta disalurkan ke dampak sosial,” ucap Abraham‎ waktu peluncuran Philanthropy Management di Samisara Grand Ballroom Sopo Del Tower, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

IAM adalah perusahaan pengelola investasi pertama di Indonesia yang meluncurkan Philanthropy Management dengan nama Investasi Sambil Beramal.

Terdapat tiga pilihan paket investasi yang bisa dipilih para investor.

Pertama, investasi Berbagi Luhur, sekitar 50 persen dari management fee investasi disumbangkan sebagai donasi buat yayasan benefisiari yang dipilih.

Kedua, Investasi Berbagi Tulus, di mana return investasi disumbangkan ke yayasan benefisiari yang dipilih.

Serta ketiga, Investasi Berbagi Mulia, di mana dana donasi semuanya diinvestasikan atas nama yayasan benefisiari yang dipilih.

William Henley, Founder IndoSterling Group dan Komisaris IndoS‎terling Aset Manajemen, mengatakan, investasi sambil beramal lahir dari prinsip kami, yaitu Creating Value Beyond.

“Komitmen kami adalah menghadirkan value lebih bagi asset yang kami kelola. Baik nilai lebih buat kesejahteraan serta masa depan, juga nilai lebih buat berkontribusi bagi tujuan sosial, kemanusiaan, dan dunia yang lebih baik,” kata William.

BACA JUGA :Indosterling Aset Manajemen Tawarkan 3 Paket Investasi Plus Beramal

 

 

Tags: , ,

Penundaan Imbal Hasil Produk Investasi Indosterling

HYPN adalah surat hutang yang diterbitkan oleh PT. Indosterling Optima Investasi (IOI) yang banyak diminati kalangan investor. Terbukti produk ini diminati lebih dari 1000 investor. Direktur dari perusahaan ini Sean Willian Hanley (SWH) sendiri, bukan orang baru di dunia investasi & industry pasar modal, beliau memiliki pengalaman panjang di pasar modal mulai dari perusahan nasional seperti Lippo Securities & Valbury Securities, sampai dengan di Swiss Bank & CIMB Securities. Selain kiprah sebagai professional pasar modal papan atas, SWH juga pernah menjadi anggota Komite Disiplin Bursa Efek Indonesia, dan bahkan pernah dicalonkan sebagai Direktur Bursa Efek Indonesia.

Memburuknya perekonomian global dan nasional akibat COVID19 juga berdampak ke IndoSterling, yang mengakibatkan penundaan terjadinya pembayaran imbal hasil produk HYPN IndoSterling tersebut.

Penundaan pembayaran imbal hasil produk Indosterling High Yield Promissory Notes (HYPN) bermula ketika terjadi penurunan kinerja perekonomian secara umum dan pasar modal secara khusus. Salah satu penyebab utama penurunan tersebut adalah dampak virus Covid-19 yang mulai merajalela di Indonesia. Hampir semua sektor industri di Indonesia maupun di dunia  terkena dampaknya. Kini penundaan pembayaran imbal hasil telah diputus melalui PKPU yang diikuti 80 persen nasabah Indosterling.

PKPU

Berdasakan pada dokumen PKPU jumlah nasabah Indosterling mencapai 1.041 orang dengan dana yang dihimpun mencapai 1,2 triliun. Sebelum Covid 19, pembayaran imbal hasil ini telah berjalan dengan lancar dan semua nasabah telah menikmati imbal hasilnya.

Melalui PKPU, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah mengabulkan skema perdamaian IndoSterling Optima Investa dengan lebih dari 80% kreditur HYPN dan diarahkan untuk menyelesaikan pembayaran kepada para nasabahnya selama kurun waktu 4 sampai 7 tahun.

Skema perdamaian melalui PKPU ini seharusnya dimulai pada bulan Maret 2021. Sebagai tanda itikad baiknya perusahaan mempercepat pembayaran sebagian pembayaran untuk nasabah mulai bulan Desember 2020. Terutama untuk nasabah yang memiliki kebutuhan seperti untuk berobat dan berusia lanjut.

Delapan puluh persen nasabah telah menyetujui dan sepakat atas perjanjian ini. Sekitar 20 persen, nasabah masih belum bisa menerima.

Nasabah yang tidak mau menerima kesepakatan perdamaian PKPU menuduh bahwa HYPN adalah produk investasi bodong dan menuntut secara perdata maupun pidana Direktur IOI. Tudingan telah dibantah pihak IOI. Pengacara IOI (Indosterling Optima Investama)  dari HD Law Firm, Hardodi telah menegaskan bahwa  tudingan terhadap  kliennya, tidak benar. IOI  tidak menjalankan praktik investasi bodong. Dia menegaskan bahwa produk HYPN itu sudah berjalan beberapa tahun dan nasabah telah memperoleh manfaatnya secara teratur.

“Perlu kami sampaikan bahwa ada beberapa berita klien kami terlibat dalam investasi bodong. Tegas kami sampaikan itu bukan investasi bodong seperti kewajiban tidak dibayarkan,” ucapnya dalam konferensi pers baru baru ini.

Djelaskan oleh Hardodi pada konfrensi pers tanggal 6 Nopember 2020 di hotel Ambara Jakarta bahwa , menurut surat perjanjian perusahaan dengan nasabah yang dipegangnya dalam pasal 4 disebutkan bahwa dana yang dihimpun dipergunakan untuk diinvestasikan kembali di pasar modal dan pasar uang dan usaha lainnya. Jadi masih menurut pria ini, bahwa perjanjian ini seperti perjanjian hutang piutang, dimana indosterling akan membayar hutangnya disertai imbal hasil yang dijanjikan. Hal tersebut adalah perjanjian hutang piutang biasa dalam perdagangan dan bisnis.

Pengadilan

Sejauh ini, kasus atau perkara ini telah memasuki babak baru dengan adanya penetapan sebagai tersangka dari Bareskrim Polri terhadap Direktur IOI. Kaitannya dengan hal ini pihak Indosterling mengaku akan menghormati hukum dan menyerahkan penyelesaian sepenuhnya lewat pengadilan. “Kami mengikuti proses hukum yang berjalan. Tapi status tersangka ini belum memutuskan klien kami bersalah. Nanti pengadilan yang membuktikan,” tegas Hardodi.

Menarik untuk disimak kelanjutan dari perkara ini, karena HYPN di tanah air merupakan produk investasi baru yang cukup menarik.

Tags: , , ,

Telah Hadir Tapestrix (TPX), Sebuah Jaringan Media Sosial Teranyar Besutan PT Indosterling

Tapestrix

Tapestrix

Hampir semua orang sudah mengetahui media jejaring sosial, facebook, twitter, Instagram dan lain lain. Facebook dianggap mewakili sebuah platform yang lengkap untuk komunikasi maupun multimedia. Akan tetapi  platform Facebook dianggap belum ideal untuk mengenalkan identitas sebuah brand, maupun mengembangkannya secara komprehensif.

Peluang ini dimanfaatkan oleh Tapestrix, sebuah platform sosial media alternatif yang dapat dikustomisasi sesuai keinginan. “Ini platform yang bisa dikustomisasi. Sedangkan Facebook ideal untuk komunikasi virtual saja, tapi untuk brand, Facebook terbatas, tidak mampu menampilkan identitas brand secara lengkap,” ujar Founder Tapestrix, William Henley dalam keterangannya di Jakarta, 1 Desember 2011 lalu.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, Tapestrix mempunyai fungsionalitas yang tak berbeda dengan facebook yaitu komunikasi dua arah, update foto, update status, dan dapat mengintegrasikan identitas brand dengan lebih baik tetapi, dengan penyempurnaan tampilan sesuai keinginan klien.

Sebagai jejaring media social anyar, Tapestrix menggelar beberapa event atau kegiatan buat memperkuat kegunaan beserta kehadirannya.  Beberapa event yang dilaksanakan oleh Tapestrix diantaranya :

Diawali, PT IndoSterling Technomedia melalui Tapestrix (TPX) menggelar kontes buat komunitas dengan tema “Our Community, Our Rules”. Kontes ini dilatarbelakangi oleh fakta kurangnya atensi akan sebuah kebutuhan komunitas. TPX melalui fitur dan fungsionalitas layaknya sebuah social networking platform berharap dapat menolong komunitas dan brand owner di Indonesia untuk menunjukkan jati diri mereka.

Seperti yang dikatakan oleh William Henley selaku founder TPX dalam siaran tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (7/7), TPX komunitas serta brand owner bisa memiliki social platform yang fully customized dan bahkan bisa dikembangkan menjadi sumber revenue untuk komunitas dan merek. Adapun komunitas yang sudah menggunakan platform TPX diantaranya: pitstop.otopedia.com; cewequat.com; supergirlies.com; aureliadevi.com.

Selain kontes, TPX juga menyelenggarakan quiz #tpxcontest2013 di Twitter @tapestrix yang terbagi dalam tiga fase. Hadiah yang disediakan antara lain uang tunai, voucher pulsa, dan buka puasa Bersama.

Kemudian Tapetris yang dibawah naungan PT. IndoSterling Technomedia, bekerjasama dengan  Pas FM membuat komunitas pendengar radio yang juga tersebar di tiga kota besar lainnya seperti di Surabaya, Semarang, dan Solo.

Robert Saputra, selaku Chief Marketing Officer Pas Fm menyatakan “Posisi kami sebagai radio bisnis jelas menjadikan penyampaian berita-berita bisnis terkini kepada para pendengar kami sangatlah penting agar kami selalu menjadi yang terdepan. Dan saat ini, dengan tren informasi yang tersebar secara instan, kami menyadari kebutuhan para pendengar kami untuk selalu mendapatkan informasi terkini untuk membantu mereka bekerja, berbagi, berdiskusi, dan membuat keputusan-keputusan bisnis yang tepat. Jaringan media social milik kami sendiri ini memungkinkan kami untuk benar-benar bisa memberikan semua informasi bisnis terkini, baik secara on-air dan online, secara langsung.”

Buat mewujudkan ide yang brillian ini, Pas FM bekerjasa sama dengan PT. IndoSterling Technomedia selaku developer dari Tapestrix (TPX) – sebuah Enterprise Social Platform yang dapat dioptimalkan untuk penerapan sesuai kebutuhan, sehingga perusahaan dan brand dapat berhubungan dan berinteraksi dengan komunitas serta konsumen mereka secara real-time.

“Kami bangga dan senang atas kepercayaan yang diberikan Pas Fm buat membantu mereka menjadi lebih dekat dan akrab dengan para pendengarnya dengan mengikutsertakan Tapestrix dalam strategi media social mereka. Tapestrix tidak saja bisa memperkuat posisi kepemimpinan Pas Fm dalam menyampaikan berita-berita bisnis unggulan namun juga mempertahankan dan mengembangkan hubungan stasiun radio tersebut dengan para pendengar setianya, baik perusahaan maupun individu-individu, secara on-air dan off-air,” ujar William Henley, CEO dari PT Indo Sterling Technomedia.

Dengan rangkaian event yang laksanakan, diharapkan nama Tapetrix perlahan mempunyai pondasi yang kokoh di dunia jaringan

Tags: , ,