Asset Manajemen
0

Penundaan Imbal Hasil Produk Investasi Indosterling

HYPN adalah surat hutang yang diterbitkan oleh PT. Indosterling Optima Investasi (IOI) yang banyak diminati kalangan investor. Terbukti produk ini diminati lebih dari 1000 investor. Direktur dari perusahaan ini Sean Willian Hanley (SWH) sendiri, bukan orang baru di dunia investasi & industry pasar modal, beliau memiliki pengalaman panjang di pasar modal mulai dari perusahan nasional […]

HYPN adalah surat hutang yang diterbitkan oleh PT. Indosterling Optima Investasi (IOI) yang banyak diminati kalangan investor. Terbukti produk ini diminati lebih dari 1000 investor. Direktur dari perusahaan ini Sean Willian Hanley (SWH) sendiri, bukan orang baru di dunia investasi & industry pasar modal, beliau memiliki pengalaman panjang di pasar modal mulai dari perusahan nasional seperti Lippo Securities & Valbury Securities, sampai dengan di Swiss Bank & CIMB Securities. Selain kiprah sebagai professional pasar modal papan atas, SWH juga pernah menjadi anggota Komite Disiplin Bursa Efek Indonesia, dan bahkan pernah dicalonkan sebagai Direktur Bursa Efek Indonesia.

Memburuknya perekonomian global dan nasional akibat COVID19 juga berdampak ke IndoSterling, yang mengakibatkan penundaan terjadinya pembayaran imbal hasil produk HYPN IndoSterling tersebut.

Penundaan pembayaran imbal hasil produk Indosterling High Yield Promissory Notes (HYPN) bermula ketika terjadi penurunan kinerja perekonomian secara umum dan pasar modal secara khusus. Salah satu penyebab utama penurunan tersebut adalah dampak virus Covid-19 yang mulai merajalela di Indonesia. Hampir semua sektor industri di Indonesia maupun di dunia  terkena dampaknya. Kini penundaan pembayaran imbal hasil telah diputus melalui PKPU yang diikuti 80 persen nasabah Indosterling.

PKPU

Berdasakan pada dokumen PKPU jumlah nasabah Indosterling mencapai 1.041 orang dengan dana yang dihimpun mencapai 1,2 triliun. Sebelum Covid 19, pembayaran imbal hasil ini telah berjalan dengan lancar dan semua nasabah telah menikmati imbal hasilnya.

Melalui PKPU, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah mengabulkan skema perdamaian IndoSterling Optima Investa dengan lebih dari 80% kreditur HYPN dan diarahkan untuk menyelesaikan pembayaran kepada para nasabahnya selama kurun waktu 4 sampai 7 tahun.

Skema perdamaian melalui PKPU ini seharusnya dimulai pada bulan Maret 2021. Sebagai tanda itikad baiknya perusahaan mempercepat pembayaran sebagian pembayaran untuk nasabah mulai bulan Desember 2020. Terutama untuk nasabah yang memiliki kebutuhan seperti untuk berobat dan berusia lanjut.

Delapan puluh persen nasabah telah menyetujui dan sepakat atas perjanjian ini. Sekitar 20 persen, nasabah masih belum bisa menerima.

Nasabah yang tidak mau menerima kesepakatan perdamaian PKPU menuduh bahwa HYPN adalah produk investasi bodong dan menuntut secara perdata maupun pidana Direktur IOI. Tudingan telah dibantah pihak IOI. Pengacara IOI (Indosterling Optima Investama)  dari HD Law Firm, Hardodi telah menegaskan bahwa  tudingan terhadap  kliennya, tidak benar. IOI  tidak menjalankan praktik investasi bodong. Dia menegaskan bahwa produk HYPN itu sudah berjalan beberapa tahun dan nasabah telah memperoleh manfaatnya secara teratur.

“Perlu kami sampaikan bahwa ada beberapa berita klien kami terlibat dalam investasi bodong. Tegas kami sampaikan itu bukan investasi bodong seperti kewajiban tidak dibayarkan,” ucapnya dalam konferensi pers baru baru ini.

Djelaskan oleh Hardodi pada konfrensi pers tanggal 6 Nopember 2020 di hotel Ambara Jakarta bahwa , menurut surat perjanjian perusahaan dengan nasabah yang dipegangnya dalam pasal 4 disebutkan bahwa dana yang dihimpun dipergunakan untuk diinvestasikan kembali di pasar modal dan pasar uang dan usaha lainnya. Jadi masih menurut pria ini, bahwa perjanjian ini seperti perjanjian hutang piutang, dimana indosterling akan membayar hutangnya disertai imbal hasil yang dijanjikan. Hal tersebut adalah perjanjian hutang piutang biasa dalam perdagangan dan bisnis.

Pengadilan

Sejauh ini, kasus atau perkara ini telah memasuki babak baru dengan adanya penetapan sebagai tersangka dari Bareskrim Polri terhadap Direktur IOI. Kaitannya dengan hal ini pihak Indosterling mengaku akan menghormati hukum dan menyerahkan penyelesaian sepenuhnya lewat pengadilan. “Kami mengikuti proses hukum yang berjalan. Tapi status tersangka ini belum memutuskan klien kami bersalah. Nanti pengadilan yang membuktikan,” tegas Hardodi.

Menarik untuk disimak kelanjutan dari perkara ini, karena HYPN di tanah air merupakan produk investasi baru yang cukup menarik.

There are 0 comments

Leave a comment

Want to express your opinion?
Leave a reply!